Minggu, 08 November 2015

Nama: Farras Widyanisa
NIM : 14/369764/PN/13964

   Kementerian Pertanian Rencanakan Integrated Farming System di Kawasan Hutan
        Salah satu program pemerintahan Jokowi ialah penguatan ketahanan pangan dan meningkatkan kedaulatan pangan. Salah satu untuk memwujudkan hal tersebut Kementerian pertanian rencanakan aksi Integrated Farming System di Kawasan Hutan yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.
Rencana memanfaatkan kawasan hutan untuk lahan pertanian dipaparkan oleh kementerian pertanian di para akademisi Univeristas Gajah Mada (UGM) dalam workshop “Rencana Aksi Pelaksanaan Integrated Farming System di Kawasan Hutan” di Gedung Pusat UGM, Jumat (16/01/2015).  Dalam workshop tersebut selain dihadiri oleh para akademisi UGM juga dihadiri perwakilan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktur Jendral Perkebunan Kementerian Pertanian dan Gebenur Jawa Tengah Ganjar Pranomo.
         Sejak tahun 2014, kegiatan demonstrated plot IFS sendiri sudah dilaksanakan di Propinsi Jawa Tengah, yang dilaksanakan atas kerja sama 5 Fakultas di Kluster Agro UGM yaitu Fakultas Kehutanan, Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, Fakultas Kedokteran Hewan, dan Fakultas Teknologi Pertanian; Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah. Untuk pelaksanaan di tahun 2014 program ini dilaksanakan di KPH Cepu, KPH Randublatung, KPH Pati, dan KPH Banyumas Tim seluas 158,1 Hektar dan akan terus diperluas pada tahun-tahun mendatang.
       Jika dalam program Hutan untuk Kedaulatan Pangan hanya melibatkan Fakultas Kehutanan UGM dengan Perum Perhutani, maka yang berbeda adalah program IFS ini dilakukan secara terpadu dan sinergis mulai dari hulu – hilir yaitu mulai dari penanaman komoditas tanaman pertanian, sampai dengan hilir yaitu pemanfaatan limbah pertanian untuk pengembangan peternakan, dan pengolahan-pemasaran pasca panen. Diharapkan dengan keterpaduan dan keterlibatan semua pihak maka program ini akan mampu menghasilkan daya ungkit yang cukup besar untuk membantu mewujudkan swasembada pangan.
       Pengembangan IFS di Jawa Tengah ini sebenarnya merupakan perluasan dari program Hutan untuk Ketahanan Pangan yang dilakukan oleh Fakultas Kehutanan UGM sejak tahun 2011 di KPH Cepu, KPH Randublatung, dan KPH Ngawi. Dalam program Hutan untuk Ketahanan Pangan tersebut dilakukan penanaman tanaman jati unggul dan dipadukan dengan tanaman padi gogo yang baru diintensifkan pada tiga varietas unggulan yaitu Situpatenggang, Inpago 4, dan Inpari dengan teknik agroforestry. Karena dirasa cukup berhasil dimana selain tegakan jati nya juga tumbuh dengan baik, produktivitas padi gogo di kawasan hutan juga cukup tinggi berkisar antara 7 – 9 ton/hektar, yang terbukti mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat petani di sekitar hutan. Dengan keberhasilan ini maka pada tahun 2014, seiring dengan gerakan Hutan untuk Pangan yang digulirkan JOKOWI, maka program ini kemudian diperluas di propinsi Jawa Tengah, yang kemudian disambut dengan tangan terbuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.           
      Dalam paparan para pembicara, Kementerian LHK, Kementerian Pertanian, dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah siap untuk mendukung pelaksanaan program IFS di kawasan hutan. Hal ini seiring dengan Visi Pemerintahan Jokowi untuk mensejahterakan masyarakat sekitar hutan yang umumnya menjadi basis kantong-kantong kemiskinan. Tahun ini Kementerian LHK bahkan menargetkan pelaksanaan IFS di kawasan hutan bukan hanya dilakukan dalam skala kecil namun akan diperluas, dimana Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah dan Jawa Timur ditugaskan untuk menyiapkan lahan masing-masing seluas 30.000 ha, sedangkan untuk Divisi Regional Jawa Barat seluas 20.000 ha. sedangkan dukungan dari Kementerian Pertanian adalah penyediaan saprodi khususnya penyediaan bibit unggul, pupuk bersubsidi, dan pendanaan lainnya. Dukungan pupuk bersubsidi bagi petani di kawasan hutan ini sangat mendesak karena mereka selama ini seolah-olah menjadi “anak tiri”, tidak pernah mendapat jatah pupuk bersubsidi dari pemerintah karena dianggap lokasi penanaman komoditi pertaniannya bukan di lahan pertanian yang lazim (di sawah). Terkait dengan swasembada pangan Kementerian Pertanian saat ini punya prioritas untuk dapat swasembada pangan padi, jagung, dan kedelai yang dikenal dengan program “pajale”.
        Sementara itu daerahnya menjadi uji coba pemanfaatan Kawasan hutan untuk pertanian, Ganjar Pramono selaku Gubernur Jawa Tengah Mengaku senang. Menurutnya Jawa Tengah siap melakukan uji coba selanjutnya untuk meningkatkan produksi pangan nasional.
      “Wilayah hutan di Jawa Tengah masih banyak yang belum dimanfaatkan untuk pertanian, sedangkan stok pangan saat ini masih kurang. Maka dari itu Jawa Tengah siap menjalankan tugas dari Kementerian Pertanian untuk mengoptimalkan kawasan hutan untuk meningkatkan produksi pertanian. Wilayah yang akan menjadi uji coba ialah di daerah Kabupaten Tegal, Banyumas, Cepu, Kendal dan beberapa daerah lainnya di wilayah Jawa Tengah yang memiliki hutan,” Katanya.
        Ganjar menambahkan, problem lingkungan hidup dan kehutanan ke depan semakin berebut dan semakin keras. Saat ini ia dipermasalahkan di Rembang, memilih pabrik semen atau sumber air. Menyusul permasalahan di Pati, di Grobogan dan Gombong. Pemprov Jateng sebelumnya menggelontorkan dana sebesar Rp 750 juta untuk pengadaan bibit padi gogo untuk ditanam di kawasan KPH yang ada di Blora, Kendal, Banyumas, Grobogan, Boyolali dan Rembang.
       Pemprov akan mengajak masyarakat sekitar hutan untuk memanfaatkan lahan hutan dengaan sistem pertanian terpadu, dibantu UGM dalam pendampingan, varietas dan lainnya.
       “Jika ini bisa didorong maka akan membantu mempercepat kedaulatan pangan. Saat ini Jateng surplus pertanian padi 3 juta ton. Bicara kedaulatan pangan maka Jateng haram hukumnya impor beras,” kata Ganjar.
        Terkait kondisi sumber air untuk irigasi pertanian, Pemprov Jawa Tengah akan ada proyek besar yakni pembangunan Waduk di Kudus dan Wonogiri. Sementara waduk Karanganyar dan Kota Semarang  sudah jadi.
       “Minimal ada lima waduk baru. Jika ini bisa dilaksanakan maka target pangan bisa terpenuhi, jika tidak bisa maka perlu Embung dan selebihnya pakai air tanah,” tutup Ganjar.
Ganjar berharap program tersebut berhasil dan Jawa Tengah bisa menjadi contoh wilayah lain yang ada di Indonesia untuk segera mengoptimalkan pemanfaatan hutan untuk pertanian. Jika pertanian meningkat, maka Indonesia tidak perlu lagi impor pangan dari luar dan kejayaan Indonesia sebagai negara pertanian akan kembali lagi.

Sumber:
http://targetabloid.co.id/berita/7845-kementerian-pertanian-rencanakan-integrated-farming-system-di-kawasan-hutan
http://fkt.ugm.ac.id/id/2015/01/kluster-agro-ugm-siap-sukseskan-integrated-farming-system-di-kawasan-hutan/
http://www.mongabay.co.id/2015/01/21/klhk-dukung-ugm-rintis-sistem-pertanian-terpadu-di-kawasan-hutan-seperti-apakah/

Optimalisasi Potensi dengan Pertanian Terintegrasi    
 oleh: Diyah Kurniya Sari(13966)   
  
        Sitem pertanian terintegrasi saat ini sedang gencar dilakukan di berbagai daerah guna mengoptimalkan sistem pertanian Zero Waste. Sistem pertanian terintegrasi merupakan sistem pertanian dengan menggabungkan beberapa aspek menjadi satu aspek pertanian yang lebih memberikan keuntungan pada masyarakat petani di berbagai daerah di Indonesia.Kegiatan utama pertanian terintegrasi ini adalah mengintegrasikan budidaya tanaman dan ternak, dimana limbah tanaman diolah manjadi pakan ternak, dan limbah ternak diolah menjadi Biogas, Biourine, Pupuk organiak baik padat maupun Cair, serta Bio Pestisida. Pertanian terintegrasi memiliki tujuan 4F (food,feed,fertilizer dan fuel).                            Pelaksanaan konsep pelaksanaan Sistem Pertanian Terintegrasi (SIMANTRI) ini tidak hanya dinikmati oleh kelompok inti saja, namum akan melibatkan banyak kelompok lain yang ada di dalam sistem yang telah bergabung di gapoktan maupun diluar sistem gapoktan itu sendiri. Peran - peran petani adalah menyediakan limbah pertanian dari pertengahan musim hujan hingga awal musim kemarau berupa limbah jerami Kacang tanah, Jagung dan lain sebagainya. Petani diajarkan untuk mengelola produk limbah dari hasil pertanian sehingga dapat digunakan dalam pertanian kembali dan mengurangi dampak penurunan kualitas lahan.Konsep pertanian terintegrasi yang telah berjalan ada sekitar 50 Gapoktan. Konsep SIMANTRI Pada Gapoktan Tri Loka Amertha Desa Lokapaksa misalnya. Konsep pelaksanaan Sistem Pertanian Terintegrasi (SIMANTRI) ini tidak hanya dinikmati oleh kelompok inti saja, namum akan melibatkan banyak kelompok baik didalam sistem yang telah bergabung di gapoktan maupun diluar sistem gapoktan itu sendiri.Disamping Kelompok Ternak Pucak Manik dan Subak Abian Bila Sari sebagai kelompok inti juga akan melibatkan subak sawah yang ada di lokapaksa diantaranya Subak Uma Desa (96 Ha), Subak Tegal Intaran (13 Ha) dan Subak Lebah Semawa (25 Ha) sebagai kelompok pendukung dengan diwadahi dan dikoordinir oleh gapoktan.                            Begitu juga Kelompok subak sawah akan menyediakan limbah pertaniannya berupa jerami padi, jerami kedele dan jerami palawija disetiap musim panen tiba untuk ditukar dengan pupuk organik ke Kelompok Ternak Pucak Manik.Pertanian yang tercapai adalah pola pertanian yang berkesinambungan dan melembaga, kuat dan tercapainya sistem pertanian organik secara berkelanjutan.Untuk kelompok yang berada di luar sistem/tidak tergabung dalam gapoktan akan sangat membantu dalam penyediaan tenaga kerja dalam menjalankan pertanian terintegrasi tersebut. Contohnnya kelompok usaha pertukangan yang membantu dalam proses pembangunan, kelompok usaha buruh akan mendapat pekerjaan dalam pengolahan kompos dan pengumpulan pakan sehingga akan menambah penghasilan masyarakat desa.Penyusunan rencana waktu dapat menentukan arah pertanian terpadu bagi pelaku bisnis yang bergerak secara konsep pertanian terpadu.Ber- bagai komoditas beragam dari hasil pertanian dapat dikembangkan dalam suatu wilayah yang didalamnya terdapat juga perikanan, peternakan, pertanian yang saling terkait. Secara suistainable, efisiensi, dan efektifitas untuk mengembangkan agro industri dimana produksi dari hulu ke hilir berkolaborasi dengan ilmu lainnya membentuk chain reaction (reaksi berantai) dan zero waste (tanpa limbah) sesuai pertanian lingkungan (eco farming).                     Pola pertanian terpadu sendiri merupakan suatu pola yang mengintegrasikan beberapa unit usaha dibidang pertanian yang dikelola secara terpadu, berorientasi ekologis sehingga diperoleh peningkatan nilai ekonomi, tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi. Melalui pertanian terpadu, akan dapat dihasilkan produk-produk pertanian, perkebunan dan peternakan melalui sinergitas antar unit dengan mengedepankan kelestarian lingkungan yang selanjutnya akan menghasilkan peningkatan secara ekonomis karena penambahan nilai daya dan guna melalui efisiensi dan efektifitas tinggi serta nilai produktifitas usaha yang baik.  
     Konsep pertanian terpadu yang dirancang yaitu dengan mensinergikan komponen-komponen yang tertera diatas. Perhatian utama terletak pada usaha ternak sapi. Dengan memanfaatkan bahan organik yang bersumber dari beternak sapi yang kontinu menyebabkan adanya peningkatan kualitas kesuburan tanah akibat pemberian bahan organik tersebut. Sehingga tanah yang subur mampu menjadi media tumbuh yang baik dari berbagai tanaman yang nantinya dapat digunakan untuk pakan sapi. Proses yang berlangsung secara demikian yang berlanjut secara terus menerus akan menyebabkan suatu siklus yang saling menguntungkan, yang dapat dikatakan memiliki keterpaduan dari berbagai komponen sehingga dapat disebut juga pertanian terpadu.

Sumber:
http://kelompokternakpucakmanik.blogspot.co.id/2010/04/simantri-sistem-manajemen-                     pertanian.html
http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/440/2015/10/07/15/58/10/Pemerintah%20Dukung               %20Usaha%20Peternakan%20Kecil%20Dengan%20Kredit%20Usaha%20Rakyat




 
Mengapa Sistem Pertanian Terpadu Dibutuhkan?
Oleh : Sofi Salma Latifah (13919)

Pangan merupakan kebutuhan vital seluruh makhluk yang hidup di dunia. Untuk memperoleh pangan yang berguna bagi makhluk hidup diperlukan adanya interaksi yang saling menguntungakan dan bersifat berkelanjutan antar makhluk (komponen-komponen) yang termasuk di dalamnya. Hal ini dibutuhkan untuk menghasilkan pangan yang cukup untuk mencukupi semua makhluk di bumi. Seorang ahli, Thomas Maltus mengajukan sebuah teori mengenai hubungan antara pertumbuhan makhluk hidup (penduduk) dan pembangunan ekonomi yang masih dipercaya hingga saat ini. Dalam teorinya tersebut, akan ada suatu masa dimana kelebihan jumlah penduduk yang sagat banyak akan menyebabkan kebutuhaan pangan sulit untuk terpenuhi. Hal ini diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang tidak ramah sehingga menimbulkan penurunan hasil produksi pangan.
Pada tahun 1997, organisasi pangan dunia yaitu The World Food Summit-FAO memprediksi bahwa pada tahun 2050 harus terjadi peningkatan pangan dan pakan sebesar tiga kali lipat di Negara berkembang. Prediksi FAO ini didasarkan pada peningkatan penduduk dan pemenuhan standar hidup mereka agar bisa mempunyai asupan pangan yang layak dan sehat. Untuk memenuhi aspirasi ini, maka harus ada kerjasama yang bagus dalam mengelola pertanian dan peternakan. Produk peternakan yang umumnya dibutuhkan untuk pangan adalah daging, susu dan telur. Produk peternakan sebagai salah satu sumber protein tidak terlalu banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena Indonesia merupakan Negara berkembang yang kebanyakan penduduknya tidak dapat memenuhinya karena keterbatasan ekonomi. Peran peternakann dalam sub sector pertanian juga masih menimbulkan permasalahan yaitu kekhawatiran mengenai persaikan antar pakan dan pangan. Pakan yang digunakan untuk hewan juga menggunakan sumber daya yang sama dengan yang manusia makan. Untuk itu, perlu ide yang bagus untuk pemecahan terhadap masalah pemenuhan kebutuhan pangan dan pakan bagi manusia dan hewan.
Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, di Indonesia sempat digalakan Revolusi Hijau untuk meningkatkan produksi pangan agar kebutuhan penduduknya terpenuhi. Program Revolusi Hijau berhasil meningkatkan produksi pertanian Indonesia yang digunkan untuk pangan. Hal ini dilakukan dengan memperbaiki input pertanian seperti penggunaan bibit unggul, penggunaan pestisida, pupuk kimia dan penggunaan teknologi modern. Akan tetapi, Revolusi Hijau memberikan efek negative yang nyata terhadap lahan dan lingkungan pertanian, diantaranya yaitu tekstur tanah yang berubah menjadi keras karena penggunaan pupuk kimia yang berlebih, hama-hama pertanian banyak yang resisten terhadap pestisida sehingga menimbulkan ledakan hama, selain itu juga karena penanaman yang diterapkan merupaakan sistem tanam monokultur. Perbaikan pengunaan input juga menambah anggaran petani sehingga mengurangi hasil panen yang diperoleh petani.
Untuk mengatasi kekhawatiran tentang pemenuhan ketersediaan pangan, maka sekarang ini perlu dilakukan system pertanian yang terpadu. System pertanian merupakan system yang memanfaatkan segala yang ada dengan cara mendaur ulang agar terbentuk siklus yang berkelanjutan dan tidak memberikan efek yang negative dikemudian hari. Dalam system pertanian terpadu, kegitan pertanian diharapkan mampu menjaga keseimbangan ekosistem di dalamnya sehingga aliran nutrisi  dan energy terjadi secara seimbang. Dari penerapan system pertanian terpadu, produksi pertanian juga dapat meningkat dengan memanfaatkan seluruh potensi energy yang terdapat dalam pertanian sehingga dapat dipanen dapat dipanen secara seimbang dan berkesinambungan. Penerapan system pertanian terpadu juga mengurangi biaya input, seperti kebutuhan pupuk. Hal ini dikarenakan dalam system pertanian terpadu, pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman dipenuhi dengan tambahan pupuk kompos yang berasal dari hasil fermentasi benda-benda organic yang ada dilingkungan sekitar dan penggunaan kotoran hewan untuk pupuk tanaman. Langkah-langkah tersebut akan mengakibatkan kawasan tersebut memiliki ekosistem yang lengkap dan seluruh komponen produksi tidak akan menjadi limbah karena pasti dimanfaatkan oleh komponen lainnya. Di samping itu akan terjadi peningkatan hasil produksi dan penekanan biaya produksi sehingga efektivitas dan efisiensi produksi akan tercapai.
Salah satu contoh penerapan system pertanian terpadu adalah menggabungkan kegiatan pertanian dan peternakan dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada dalam sistem. Petani bisa menanam padi, jagung, palawija dan hasil pertanian lainnya. Selain itu, petani juga diselingi beternak sapi, kambing, ayam atau hewan ternak lainnya. Hasil yang bisa diperoleh petani dari pertanian adalah hasil utama seperti beras, jagung, kedelai dan sebagainya. Dari hasil utama ini, maka petani bisa menjualnya atau dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan sehari-hari. Hasil sampingnya (limbah pertanian) adalah limbah pertanian yang berupa jerami padi, dedak, bekatul dan jerami jagung. Limbah pertanian yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak maupun bahan baku pupuk kompos melalui proses fermentasi. Limbah pertanian sebagai pakan ternak agar tahan lama juga dapat dilakukan dengan fermentasi menggunakan mikroorganisme dekomposisi dan urea plus tetes. Hasil pengolahan pakan ternak ini dapat bertahan hingga satu tahun. Selain itu, limbah pertanian juga dapat diubah menjadi bokashi. Bokhasi merupakan sejenis kompos yang terbuat dari jerami padi. Penggunaanya pun mirip dengan kompos namun cara membuatnya sedikit lebih lama daripada kompos.
Adapun hasil dari beternak meliputi telur, susu dan daging, sedangkan hasil sampingannya berupa kotoran. Kotoran ternak ini dapat diubah menjadi kompos melalui proses fermentasi, Kotoran ternak juga dapat digunakan untuk biogas. Biogas adalah sebuah sistem dari bakteri pembentuk gas metan secara anaerob dengan memanfaatkan bahan-bahan organik. Sumber utama bakteri pembentuk gas metan adalah hewan ruminansia. Dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai sumber bakteri gas metan maka akan didapatkan sumber energi yang murah, ramah lingkungan dan terbarukan. Urin ternak dapat digunakan sebagai pupuk cair. Kegunaan pupuk cair banyak untuk pupuk tanaman hias yang diberikan secara semprot atau kegunaan lainnya. Manfaat terakhir adalah kotoran ternak sebagai pakan ternak. Kotoran ternak yang bisa digunakan sebagai pakan ternak adalah kotoran ayam karena kandungan protein kotoran ayam yang masih tinggi. Begitu juga kotoran kambing juga layak dijadikan pakan ternak.
Berdasarkan uraian di atas dapat digambarkan bagaimana sistem pertanian terpadu bekerja. Pertanian menghasilkan hasil utama yang bisa dimanfaatkan langsung oleh petani. Namun hasil samping pertanian menjadi input bagi peternakan. Petani juga bisa mendapatkan hasil utama peternakan dan hasil samping peternakan menjadi input bagi pertanian. Ketersediaan input dari dalam sistem pertanian terpadu sangat memberikan manfaat bagi petani dan lingkungan. Dan alamlah yang memberikan contoh dalam menerapkan keseimbangan sistem pertanian terpadu.
Sumber : 
Oktora, N. 2014. Alasan Perlunya Sistem Pertanian Terpadu, http://petanihebat.com/2014/04/alasan-perlunya-sistem-pertanian-terpadu.html?m=1. Diakses pada 8 September 2015.

Sabtu, 07 November 2015

PERTANIAN TERPADU

Pengaruh Pertanian Terpadu Tanaman Holtikultura dan Ternak Terhadap Pendapatan Petani di kota Pekanbaru
(Ulfa Nurul Arafah Gol.B2/Kel.6/13961)
Pekanbaru memilki potensi untuk pengembangan pertanian terpadu, dengan memanfaatkan lahan tidur, sesuai dengan anjuran pemerintah kota melalui Badan Ketahanan Pangan. Dengan memanfaatkan lahan ini untuk usatani sayuran, masyarakat bisa mandiri untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat dan juga merupakan sumber pendapatan bagi petani yang mengusahakannya. Pertanian terpadu merupakan suatu system berkesinambungan dan tidak berdiri sendiri, pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian untuk makan ternak. Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk memperoleh  hasil usaha yang optimal, dan dalam rangka memperbaiki kondisi kesuburan tanah. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah  saling melengkapi, mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan efisiensi produksi  dan meningkatkan keuntungan hasil usaha taninya.
Tanaman hortikultura merupakan tanaman yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuahan vitamin dan mineral. Sayuran hijau bermanfaat sebagai sumber vitamin dan mineral yang penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Dengan bertambahnya penduduk, meningkatnya pendapatan dan pendidikan akan mempengaruhi kesadaran masyarakat terhadap pentingnya nilai gizi dan kesehatan. Sisa tanaman dapat di manfaatkan untuk pakan ternak , sedangakan kotoran ternak dapat dijadikan pupuk bagi tanaman hortilkutura. Sebelum penalksanaan disarankan melakukan penelaahan potensi wilayah dan kebutuhan ternak ,meliputi rumput – rumputan dan limbah pertanian untuk pakan ternak sebagai sumber tenaga, penghasil pupuk kandang dan sumber pendapatan.
Pendapatan menunjukkan besarnya balas jasa yang diterima oleh petani, karena petani berperan dalam pegelolaan, mengerjakan dan menanam modal. Pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan tunai usahatani dan pendapatan total usahatani. Pendapatan tunai uasahatani adalah selisih antara penerimaan tunai dengan pengeluaran atau biaya tunai usahatani. Usaha tanaman hortikultura, tanaman pangan dapat menyediakan bahan yang dapat dipergunakan sebagai sumber pakan, sementara ternak dapat dipergunakan ternak beban ataupun dapat menyediakan bahan baku sumber pupuk organik ataupun sebagai sumber energi. Jadi, ternak dapat diintegrasikan dengan tanaman maupun memanfaatkan produk ikutan dan produk samping tanaman, sementara ternak dapt menyediakan bahan baku pupuk organik sebagai sumber hara yang sangat dibutuhkan tanaman dan energi bagi kepentingan umat manusia. Harga jual tanaman hortikultura sangat bervariasi sehingga pendapatan petani tidak pasti, dengan memelihara ternak maka petani dapat memanfaatkan kotoran sebagai pupuk dan menambah pendapatan keluarga.



Gambar 1. Model Umum Sistem Pertanian Terpadu
Integrasi sapi dengan tanaman holtukultura relatif mudah dilaksanakan, bila kedua usaha dikendalikan dan dikelola dalam satu wadah. Jenis ternak sapi yang di pelihara oleh responden adalah sapi Bali, peranakan simental ,kambing yang di pelihara jenis peranakan ettawa terutama betina. Pemilihan jenis sapi ini dilandasi oleh beberapa alasan antara lain karena Sapi Bali adalah jenis sapi yang sudah beradaptasi baik di daerah Propinsi Riau, selain itu dapat memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah dan memiliki fertilitas yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat para ahli yang menyarankan bahwa pengembangan sapi sebaiknya memanfaatkan plasma nutfah (sumberdaya genetik = SDG) lokal, antara lain sapi Bali. Kelebihan sapi bali antara lain adalah (a) daya adaptasi yang tinggi, (b) daya reproduksi sangat baik, (c) mampu memanfaatkan pakan yang berkualitas ‘rendah’, (d) kualitas karkas sangat baik, serta (e) mempunyai harga jual yang tinggi. Secara umum sapi Bali mempunyai lebih banyak keunggulan teknis dan ekonomis.
Tingkat pendapatan petani di kota Pekanbaru cukup tinggi dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) daerah Riau, yang hanya sebesar Rp. 1.250.000,-. Hal ini banyak dipengaruhi oleh permintaan holtikultura dan daging untuk masyarakat kota Pekanbaru setiap hari bertambah sehingga dengan bayaknya penjualan maka pendapatan petani meningkat dan lebih tinggi sayuran yang ditanam di Pekanbaru setelah di panen langsung di ambil oleh pedagang dan langsung di jual ke pasar sehingga sayuran dan buah-buahan masih segar sampai di tangan konsumen. Pendapatan petani dari hortilkultura perperiode tanam Rp 9.731.147,- dari usaha ternak Rp 9.345.328,-per tahun, sedangkan hasil penelitian Nizar (2011) pendapatan petani sayuran di kelurahan Sidomulyo Rp 5.928.400,-per periode tanam Tanaman holtikultura harga tidak stabil tergantung musim dan kebutuhan masyarakat. Sampai saat ini usaha ternak sapi yang dilakukan petani responden sebagai usaha sambilan dan belum menjadi usaha pokok, dimana rata-rata kepemilikan ternak sapi masih rendah yaitu 4 -5 ekor. Ternak kambing 2- 3 perpetani. Kalau ternak harga jual akan meningkat jika ada hari besar agama seperti hari raya idil fitri dan idil adha,karena permintaan daging meningkat.
Adanya kotoran sapi dapat mengurangi biaya pengadaan pupuk yang sekaligus dapat mengurangi biaya produksi di samping menjaga kelestarian bahan organik tanah khususnya wilayah perkebunan berlereng. Pada dekade tahun 1990 –an telah diintensifkan integrasi tanaman padi dan ternak sapi. Dalam hal ini dioptimalkan pemanfaatan pupuk organik berasal dari kotoran sapi biasa mencapai 40 % dari pendapatan. Dengan adanya sistem pertanian terpadu petani semakin sejahtera karena telah ada peningkatan pendapatan. Jika harga sayur turun petani masih punya penghasilan lain yaitu dari ternak sapi, kambing, ayam yang setiap tahun dapat menghasilkan anak dan pupuk. Petani yang memiliki sapi menjadikan kotoran sapi untuk biogas sehingga tidak perlu membeli gas untuk memasak.
Model pertanian terpadu: ternak sapi maksimal di pelihara 21 ekor, kambing 12 ekor dan hortikultura 4,22 ha. Pendapatan maksimal dari pertanian terpadu hortikultura dan ternak Rp 3.96142,5 perbulan, dari usahatani terpadu ini dengan mengunakan program liner maka yang menguntungkan hanya ternak kambing. Sedangkan yang terjadi di lapangan petani melakukan usahatani terpadu dapat meningkatkan pendapatan dari hasil penjualan sayuran yang diperoleh setiap hari. Diharapkan agar pemerintah membantu petani meningkatkan jumlah ternak untuk meningkatkan pendapatan,pemasarandilakukan oleh koperasi sehingga harga dapat ditentukan bersama.

Sumber:
Siswati, L. 2012. Pendapatan petani melalui pertanian terpadu tanaman hortikultura dan ternak di kota pekanbaru. http://unilak.ac.id/media/file/72735468205Pendapatan_ Petani.pdf.

Nurcholis, M. dan G. Supangkat. 2011. Pengembangan Integrated Farming System Untuk Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian. Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian